Hubungan Kompetensi Dengan Kinerja Penyuluh Pertanian dalam Peningkatan Produktivitas Kakao di Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur

Sapar Sapar

Abstract


Penyuluh pertanian yang berkinerja baik adalah dambaan bagi petani. Penyuluh yang berkinerja baik dilihat pada petani yang mampu memecahkan masalahnya. Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani dalam usahatani ditentukan oleh kualitas kerja penyuluh pertanian dalam membantu petani. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) kompetensi penyuluh pertanian apa yang memengaruhi kinerja mereka? (2) berapa besar hubungan kompetensi penyuluh pertanian terhadap kinerja mereka?, sehingga tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui kompetensi penyuluh pertanian apa yang memengaruhi kinerja mereka dan (2) mengetahui besar hubungan kompetensi penyuluh pertanian terhadap kinerja mereka.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, dengan menjadikan angket sebagai bahan utama mengumpulkan data. Untuk memperkaya data yang diperoleh, maka juga diadakan wawancara mendalam dan pengamatan di lapangan. Focus Group Discussion (FGD) akan membantu memperkaya informasi yang diperlukan. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan program SPSS 16.0
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah kompetensi penyuluh pertanian berpengaruh nyata terhadap kinerja mereka. Kompetensi penyuluh pertanian ikut menentukan baik buruknya kinerja mereka dengan koefisien pengaruh sebesar 0,779 satuan pada α 0,05.

Pengaruh kompetensi pada kinerja penyuluh pertanian tersebut tampak pada baik buruknya perencanaan penyuluhan, melaksanakan penyuluhan pertanian, evaluasi dan pelaporan penyuluhan, pengembangan penyuluhan, mengembangkan profesi penyuluhan, kemampuan kepemimpinan penyuluhan pertanian,diseminasi teknologi, kemampuan komunikasi penyuluh
pertanian, kemampuan kemitraan usaha dan mengembangkan teknis budidaya kakao. Jika terjadi peningkatan satu satuan kompetensi penyuluh pertanian akan meningkatkan kinerja penyuluh sebesar 0,779 satuan pada α 0,05.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa: (1) kompetensi yang berpengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian adalah: kemampuan merencanakan penyuluhan pertanian, kemampuan melaksanakan penyuluhan pertanian, kemampuan mengevaluasi dan melaporkan penyuluhan pertanian, kemampuan mengembangkan penyuluhan pertanian, kemampuan mengembangkan profesi penyuluhan pertanian, kemampuan kepemimpinan penyuluh pertanian, kemampuan diseminasi teknologi, kemampuan komunikasi penyuluh pertanian, kemampuan kemitraan usaha, kemampuan teknis budidaya kakao, (2) peubah kompetensi penyuluh pertanian berpengaruh nyata dan signifikan terhadap kinerja penyuluh pertanian kakao di Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur, maka disarankan kepada Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian untuk terus meningkatkan kinerja penyuluh pertanian kakao dengan berfokus pada peningkatan kompetensi mereka dengan melakukan berbagai macam pelatihan tentang teknis kakao terhadap penyuluh – penyuluh pertanian agar dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang teknis kakao dan dapat di salurkan kepada seluruh petani kakao binaan penyuluh.

References


Buku

Atmosoeprapto K. 2004. Menuju SDM Berdaya: Dengan Kepemimpinan Efektif dan Manajemen Efisien. Jakarta: PT Alex Media Komputindo, Kelompok Gramedia.

Armansyah 2002. Growth Need Strength sebagai Moderator Hubungan antara Karakteristik Pekerjaan dengan Kepuasan Kerja Secara Umum. Jakarta: Universitas Indonesia.

Barron RA, Greenberg J. 1990. Behavior in Organization: Understanding and Managing the Human Side of Work. Massachusset: Alyn and Bacon.

Carnegie D. 1971. Bagaimana Melenyapkan Cemas dan Menikmati Hidup. Jakarta: Magic Centre.

Fremont EK, James ER. 2002. Organisasi dan Manajemen. [terjemahan, Ali] Jakarta: Bumi Aksara.

Gibson JL. 2001. Cooperative Extension Program Planning in Wisconsin. USA. University of Wisconsin.

_______, John MI, James HD. 2002. Organisasi:Perilaku, Struktur dan Proses. Jilid I, Edisi Kedelapan. Jakarta: Binarupa Aksara.

Gonzales H. 1988. Efek Komunikasi Massa.Dalam, Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia ke Tiga. [diedit, Jahi A]. Jakarta: Gramedia Utama.

________. 1997. Manajemen Sumberdaya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Padmowihardjo S. 1994. Psikologi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

_______________. 2004. Menata Kembali Penyuluhan Pertanian di Era Pembangunan Agribisnis. Jakarta: Departemen Pertanian.

Rogers EM. Shoemaker FF. 1995. Communications of Innovations. New Edition. New York: The Free Press.

Rosyada A. 2004. Paradigma Pendidikan Gratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Indonesia.

Salam HB. 1997. Pengantar Pedagogik (Dasar-Dasar Ilmu Mendidik). Jakarta: Rineka Cipta.

Salkind NJ. 1985. Theories of Human Development. Second Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Sapar. 2010. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian dan Dampaknya pada Kompetensi Petani Kakao di Empat Wilayah Sulawesi Sekatan. Bogor: Makaira Printing Plus.

Saydam G. 2006. Built in Training. Jakarta: Rosda.

Schermerhon JR, Hunt JG, Osborn RN. 1991. Managing Organizational Behavior. Canada: John Willey & Sons, Inc.

van den Ban AW, Hawkins HS. 1999. Penyuluhan Pertanian. Terjemahan, Herdiasti AD. Yogyakarta: Kanisius.

Wahyudi T. 2008. Panduan Lengkap Kakao Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Panggabean, Pujiyanto (editor) Jakarta: Penebar Swadaya.

Werther, WB, Davis K. 1989. Human Resources and Personnel Management. 3th Ed. USA.: McGraw-Hill, Inc.

Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wiriatmadja S. 1990. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Yasaguna.

(YST) Yayasan Sinar Tani. 2001. Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Yayasan Sinar Tani.

Zainun B. 2005. Administrasi dan Manajemen Kepegawaian. Jakarta: Haji Mas Agung.

Jurnal, Artikel, Laporan Hasil Penelitian dan Prosiding

Bestina S, Slamet H, Amiruddin S. 2006. Kinerja Penyuluh Pertanian dalam Pengembangan Agribisnis Nenas di Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Laporan Hasil Penelitian. Kendari: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kendari.

Lasmahadi, A. 2002. Sistem Manajemen Sumberdaya Manusia Berbasis Kompetensi. http://www.sdm.go.id. Diakses 2 Pebruari 2011.

Sapar. 2011. “Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Kinerja Penyuluh Pertanian dan Dampaknya pada Kompetensi Petani Kakao di Empat Wilayah Sulawesi Selatan.”J. Forum Pascasarjana, Vol 34 No. 4 hal: 297-305

Peraturan-PeraturanM

(BPSDM) Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian. 2007. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Dasar Bagi Penyuluh Pertanian. Jakarta: BPSDM Deptan.

(Deptan) Departemen Pertanian. 1988. Pedoman Pengelolaan Balai Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Departemen Pertanian.




DOI: http://dx.doi.org/10.35906/je001.v4i1.11

Article Metrics

Abstract view : 0 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 0 times



 

 

Indexing In

 

Tools